Bangunan majelis ini bila diamati secara fisik merupakan
bangunan biasa yang diperuntukan untuk berbagai kegiatan keagamaan. Bangunan
yang terletak di Kampung Babakan, Desa Jayagiri, Kecamatan Sindangbarang
Cianjur ini berlokasi dipojok kampung. Cat dindingnya biru, dan tampak resik,
dikarenakan bangunan tersebut memang baru diperbaiki tahun lalu. Di sebelah
bangunan utama, terdapat pula sebuah bangunan kecil tempat bermalam tamu dari luar
daerah yang datang ke majelis. Tapi siapa sangka bila bangunan yang tampak asri
ini menyimpan suatu rahasia.
Penulis baru menyadari keberadaan bangunan majelis ini
ketika saat itu penulis sedang berkunjung ke rumah seorang teman di Desa
Jayagiri. Saat penulis berjalan-jalan, menemukan bangunan itu. Pandangan
pertama saat melihat bangunan tersebut adalah perasaan sedikit aneh dan entah
kenapa penulis menjadi sangat tertarik untuk mengetahui rahasia dibalik
bangunan biru itu lebih jauh. Penulis merasakan aura gaib yang dipancarkan oleh
bangunan tersebut.
Dari teman penulis dan beberapa warga, penulis baru tahu
bahwa bangunan tersebut adalah sebuah majelis. Bangunan tersebut sering
digunakan untuk acara-acara keagamaan. Secara rutin dilakukan pengajian ibu-ibu
pada Jum’at sore dan bapak-bapak pada Jum’at malam. Selain kegiatan tersebut,
bangunan ini jarang digunakan.
Tapi menurut Rahman, warga yang tinggal hanya beberapa
meter dari bangunan majelis menambahkan bahwa bangunan tersebut memang
menyimpan suatu rahasia. Menurutnya, pernah ada seorang lelaki yang mencuri
kayu yang disimpan di belakang bangunan tersebut. Hasilnya, pencuri tersebut
hanya berputar-putar di dalam kampung dan akhirnya dipergoki warga pada pagi
harinya.
Disebutkan pula oleh beberapa warga bahwa kita tidak
boleh berbuat tidak senonoh disekitar bangunan majelis tersebut. Selain itu,
kita juga harus sopan dan menjaga perkataan dan perbuatan. Bila tidak kita bisa
mendapat celaka karena disebutkan bahwa di tempat itu memang ada penghuni halusnya.
Demi mendapatkan keterangan yang lebih jelas, penulis
kemudian mendatangi Bapak Usman. Beliau merupakan salah satu tokoh masyarakat
dan tokoh agama yang disegani di Kampung Babakan dan sekitarnya. Dari beliau,
penulis mendapatkan keterangan yang lebih lengkap.
Menurut Pak Usman, bangunan majelis tersebut memang
memiliki sejarah tersendiri. Sejarah majelis ini tidak terlepas dari nama Mama
Gelar yang merupakan penyebar agama Islam terkemuka di Cianjur dan sekitarnya.
Bahkan kegiatan syi’ar Islamnya mencapai Pulau Andalas.
Dalam menyebarkan agama Islam, Mama Gelar diceritakan
aktif berkelana dari satu daerah ke daerah lainnya. Hanya saja, dalam
perjalanan menyebarkan agama Islam ini, ada satu sikap luar biasa yang dimiliki
Mama Gelar. Setiap menyebarkan Islam di satu daerah, Mama Gelar tak akan pernah
mau menginap atau tinggal di rumah penduduk, dengan alasan untuk menghindari
fitnah. Mama Gelar lebih memilih untuk mendirikan suatu bangunan sederhana yang
berfungsi sebagai rumah dan juga majelis pengajiannya. Di bangunan yang
didirikannya itulah yang menjadi tempat pusat syi’ar Islam.
Karena itulah, disebutkan bahwa total majelis Mama Gelar
jumlahnya ada 133 yang semuanya tersebar di berbagai tempat di Jawa dan
Sumatera. Salah satunya adalah majelis di Kampung Babakan ini yang merupakan
majelis ke 63 dari 133 majelis.
Majelis ini pertama kali didirikan pada sekitar tahun
1977. Hingga tahun 2008, bangunan tersebut hanya berupa bangunan sederhana yang
terbuat dari kayu. Tapi pada tahun 2008, bangunan tersebut direnovasi dan
akhirnya menjadi seperti sekarang ini yang berupa bangunan permanen.
Ketika penulis menceritakan soal aura gaib yang penulis
rasakan dan cerita dari beberapa warga tentang adanya mahluk halus di bangunan
majelis tersebut, Pak Usman hanya tersenyum. Selanjutnya Pak Usman menceritakan
rahasia dibalik bangunan tersebut.
Ternyata memang ada penghuni halus di bangunan majelis
itu. Dituturkan oleh Pak Usman bahwa dahulu oleh Mama Gelar di majelis tersebut
ditempatkan 41 jin muslim yang entah berasal darimana. Ke 41 jin tersebut
diberi tugas sebagai penjaga kampung. Hanya saja, seiring berjalannya waktu
ternyata satu dari ke-41 jin muslim itu memiliki sikap yang kasar dan sering
mengganggu orang di sekitar majelis sehingga akhirnya dipindahkan hingga saat
ini hanya ada 40 jin muslim yang 24 diantaranya adalah kalangan ulama bangsa
jin. Pimpinan dari ke 40 jin muslim tersebut adalah jin yang bernama Azraq.
Sebenarnya, ke 40 jin muslim ini memiliki perangai yang
baik dan temasuk jin yang soleh. Hanya saja, sesuai tugas yang diberikan
kepadanya, jin-jin tersebut akan memberikan reaksi negatif bila ada orang yang
berniat jahat atau tidak senonoh. Misalnya saja orang yang berbuat seenaknya di
sekitar majelis.
Bahkan menurut Pak Usman, pernah ada seorang lelaki yang
buang hajat di sekitar majelis. Hasilnya, lelaki tersebut sakit selama beberapa
hari. Setelah ditangani oleh Pak Usman, barulah orang tersebut sembuh. Ketika
melakukan penyembuhan, Pak Usman mengadakan kontak gaib dengan penghuni majelis
dan yang berkomunikasi dengan Pak Usman adalah jin muslim yang bernama
Jakalelana. Orang tersebut dianggap tidak sopan oleh Jakalelana sehingga dibuat
sakit.
Yang lebih hebat, jin-jin tersebut ikut ambil bagian
dalam keamanan kampung. Memang sejak dulu sampai sekarang, Kampung Babakan
merupakan kampung yang terbilang sangat aman. Sangat jarang terjadi pencurian.
Pak Usman juga membenarkan cerita yang disampaikan Rahman, bahkan menambahkan
bahwa dulu pun pernah ada seseorang yang mencuri di sebuah rumah di Kampung
Babakan dan hasilnya pencuri itu hanya berputar-putar di Kampung Babakan hingga
pagi dan ditangkap warga.
Pernyataan ini juga akhirnya menjawab rasa penasaran
penulis. Ya,saat datang ke Babakan penulis memang agak heran melihat perilaku
penduduknya yang penulis anggap sangat ceroboh. Bayangkan, setiap orang bila
meninggalkan sepeda motor diparkir didepan rumah atau dipinggir jalan pasti
kuncinya tidak dicabut dan dibiarkan tergantung di kontak. Pak Usman menjelaskan
bahwa memang semua penduduk sudah merasa aman dan pada kenyataannya memang
belum pernah ada sepeda motor hilang atau kehilangan barang lainnya. Kalaupun
ada yang mencuri pasti si pencuri tak akan bisa lari dan hanya berputar-putar
disekeliling kampung hingga ditangkap penduduk.
Penulis pun membuktikannya sendiri. Penulis meninggalkan
sepatu penulis di pinggir gang didepan rumah teman penulis yang menjadi tempat
menginap penulis. Saat malam pun penulis tidak memasukkan sepatu tersebut ke
dalam rumah. Hasilnya, walaupun sudah disimpan selama 3 hari, sepatu itu tidak
hilang. Padahal bila hal ini dilakukan di kota, dipastikan sepatu tersebut akan
melayang.
Mengenai hal ini, ditanggapi juga oleh Pak Usman sebagai
terwujudnya salah satu pernyataan dari Mama Gelar. Saat Mama Gelar masih hidup,
Mama Gelar memang pernah berkata mengenai keberadaan majelis di Kampung Babakan
ini. Mama Gelar berkata, “Nanti suatu saat akan ada suatu lingkaran merah yang
akan melingkari majelis dan daerah sekitarnya, hal ini akan membuat daerah
sekitar majelis terhindar dari berbagai bencana dan serbuan musuh.” Arti lain
dari pernyataan ini adalah bahwa daerah sekitar majelis dan Kampung Babakan
akan selalu aman dan terhindar dari berbagai bencana.
Disamping kisah-kisah tersebut, penulis pun ingin melakukan
riyadoh di majelis tersebut. Dasarnya adalah untuk semakin mendekatkan diri
pada Allah serta bersilaturahmi dengan para jin muslim di majelis. Maka,
penulis kemudian meminta izin pada Bapak Haji Zaeni, salah seoang sesepuh yang
sering melakukan riyadoh di majelis. Ternyata Pak Zaeni menyambut baik
keinginan penulis dan mempersilahkannya. Maka pada malam Jum’at tanggal 30 Juli
penulis melakukan riyadoh yang dimulai pada pukul 10 malam hingga pukul 1
dinihari.
Saat riyadoh, penulis merasakan kenyamanan yang luar
biasa. Udara menjadi sejuk dan nyaman membuat penulis semakin khusyuk berdoa
dan berdzikir. Saat ini juga penulis merasakan seperti ada sosok-sosok asing
yang berkelabat yang mungkin adalah sosok jin muslim di majelis.
Memasuki pukul 12 malam, ada sedikit keanehan. Tiba-tiba
di luar majelis terdengar ribut-ribut suara kambing dan ayam dari rumah warga.
Anehnya, bila penulis simak, suara ribut ini terdengar dari seluruh rumah warga
di berbagai penjuru sekitar majelis, karena memang kebetulan di Kampung ini
rata-rata setiap rumah memiliki ternak. Penulis keheranan dan bertanya-tanya
dalam hati, apa gerangan yang terjadi? Mengapa semua ternak menjadi ribut?
Esok paginya, keheranan penulis terjawab. Menurut
beberapa warga, ternyata pada sekitar pukul 12 malam tadi terjadi gempa bumi
yang cukup lumayan. Gempa bumi ini memang termasuk fenomena alam biasa, tapi
hal ini membuat penulis takjub.
Ya, sudah jelas semalam penulis sedang berdzikir di
majelis tapi tidak terasa getaran gempa sedikitpun. Penulis hanya mendengar
suara ternak yang memang selalu ribut bila ada fenomena alam seperti gempa.
Subhanallah, memang Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Secara logika,
seharusnya penulis yang sedang riyadoh di majelis ikut merasakan getaran gempa
yang terjadi selama sekitar 5 menit itu. Tapi kenyataannya tidak terasa getaran
sedikit pun. Kesimpulannya, memang ada sesuatu yang khusus di majelis ini.
Wallahualam.