Jumat, 05 April 2013

Program #KamisMistis "40 JIN MUSLIM PENJAGA KAMPUNG DI BANGUNAN MAJELIS KAMPUNG BABAKAN"


 
            Bangunan majelis ini bila diamati secara fisik merupakan bangunan biasa yang diperuntukan untuk berbagai kegiatan keagamaan. Bangunan yang terletak di Kampung Babakan, Desa Jayagiri, Kecamatan Sindangbarang Cianjur ini berlokasi dipojok kampung. Cat dindingnya biru, dan tampak resik, dikarenakan bangunan tersebut memang baru diperbaiki tahun lalu. Di sebelah bangunan utama, terdapat pula sebuah bangunan kecil tempat bermalam tamu dari luar daerah yang datang ke majelis. Tapi siapa sangka bila bangunan yang tampak asri ini menyimpan suatu rahasia.
            Penulis baru menyadari keberadaan bangunan majelis ini ketika saat itu penulis sedang berkunjung ke rumah seorang teman di Desa Jayagiri. Saat penulis berjalan-jalan, menemukan bangunan itu. Pandangan pertama saat melihat bangunan tersebut adalah perasaan sedikit aneh dan entah kenapa penulis menjadi sangat tertarik untuk mengetahui rahasia dibalik bangunan biru itu lebih jauh. Penulis merasakan aura gaib yang dipancarkan oleh bangunan tersebut.
            Dari teman penulis dan beberapa warga, penulis baru tahu bahwa bangunan tersebut adalah sebuah majelis. Bangunan tersebut sering digunakan untuk acara-acara keagamaan. Secara rutin dilakukan pengajian ibu-ibu pada Jum’at sore dan bapak-bapak pada Jum’at malam. Selain kegiatan tersebut, bangunan ini jarang digunakan.
            Tapi menurut Rahman, warga yang tinggal hanya beberapa meter dari bangunan majelis menambahkan bahwa bangunan tersebut memang menyimpan suatu rahasia. Menurutnya, pernah ada seorang lelaki yang mencuri kayu yang disimpan di belakang bangunan tersebut. Hasilnya, pencuri tersebut hanya berputar-putar di dalam kampung dan akhirnya dipergoki warga pada pagi harinya.
            Disebutkan pula oleh beberapa warga bahwa kita tidak boleh berbuat tidak senonoh disekitar bangunan majelis tersebut. Selain itu, kita juga harus sopan dan menjaga perkataan dan perbuatan. Bila tidak kita bisa mendapat celaka karena disebutkan bahwa di tempat itu memang ada penghuni halusnya.
            Demi mendapatkan keterangan yang lebih jelas, penulis kemudian mendatangi Bapak Usman. Beliau merupakan salah satu tokoh masyarakat dan tokoh agama yang disegani di Kampung Babakan dan sekitarnya. Dari beliau, penulis mendapatkan keterangan yang lebih lengkap.
            Menurut Pak Usman, bangunan majelis tersebut memang memiliki sejarah tersendiri. Sejarah majelis ini tidak terlepas dari nama Mama Gelar yang merupakan penyebar agama Islam terkemuka di Cianjur dan sekitarnya. Bahkan kegiatan syi’ar Islamnya mencapai Pulau Andalas.
            Dalam menyebarkan agama Islam, Mama Gelar diceritakan aktif berkelana dari satu daerah ke daerah lainnya. Hanya saja, dalam perjalanan menyebarkan agama Islam ini, ada satu sikap luar biasa yang dimiliki Mama Gelar. Setiap menyebarkan Islam di satu daerah, Mama Gelar tak akan pernah mau menginap atau tinggal di rumah penduduk, dengan alasan untuk menghindari fitnah. Mama Gelar lebih memilih untuk mendirikan suatu bangunan sederhana yang berfungsi sebagai rumah dan juga majelis pengajiannya. Di bangunan yang didirikannya itulah yang menjadi tempat pusat syi’ar Islam.
            Karena itulah, disebutkan bahwa total majelis Mama Gelar jumlahnya ada 133 yang semuanya tersebar di berbagai tempat di Jawa dan Sumatera. Salah satunya adalah majelis di Kampung Babakan ini yang merupakan majelis ke 63 dari 133 majelis.
            Majelis ini pertama kali didirikan pada sekitar tahun 1977. Hingga tahun 2008, bangunan tersebut hanya berupa bangunan sederhana yang terbuat dari kayu. Tapi pada tahun 2008, bangunan tersebut direnovasi dan akhirnya menjadi seperti sekarang ini yang berupa bangunan permanen.
            Ketika penulis menceritakan soal aura gaib yang penulis rasakan dan cerita dari beberapa warga tentang adanya mahluk halus di bangunan majelis tersebut, Pak Usman hanya tersenyum. Selanjutnya Pak Usman menceritakan rahasia dibalik bangunan tersebut.
            Ternyata memang ada penghuni halus di bangunan majelis itu. Dituturkan oleh Pak Usman bahwa dahulu oleh Mama Gelar di majelis tersebut ditempatkan 41 jin muslim yang entah berasal darimana. Ke 41 jin tersebut diberi tugas sebagai penjaga kampung. Hanya saja, seiring berjalannya waktu ternyata satu dari ke-41 jin muslim itu memiliki sikap yang kasar dan sering mengganggu orang di sekitar majelis sehingga akhirnya dipindahkan hingga saat ini hanya ada 40 jin muslim yang 24 diantaranya adalah kalangan ulama bangsa jin. Pimpinan dari ke 40 jin muslim tersebut adalah jin yang bernama Azraq.
            Sebenarnya, ke 40 jin muslim ini memiliki perangai yang baik dan temasuk jin yang soleh. Hanya saja, sesuai tugas yang diberikan kepadanya, jin-jin tersebut akan memberikan reaksi negatif bila ada orang yang berniat jahat atau tidak senonoh. Misalnya saja orang yang berbuat seenaknya di sekitar majelis.
            Bahkan menurut Pak Usman, pernah ada seorang lelaki yang buang hajat di sekitar majelis. Hasilnya, lelaki tersebut sakit selama beberapa hari. Setelah ditangani oleh Pak Usman, barulah orang tersebut sembuh. Ketika melakukan penyembuhan, Pak Usman mengadakan kontak gaib dengan penghuni majelis dan yang berkomunikasi dengan Pak Usman adalah jin muslim yang bernama Jakalelana. Orang tersebut dianggap tidak sopan oleh Jakalelana sehingga dibuat sakit.
            Yang lebih hebat, jin-jin tersebut ikut ambil bagian dalam keamanan kampung. Memang sejak dulu sampai sekarang, Kampung Babakan merupakan kampung yang terbilang sangat aman. Sangat jarang terjadi pencurian. Pak Usman juga membenarkan cerita yang disampaikan Rahman, bahkan menambahkan bahwa dulu pun pernah ada seseorang yang mencuri di sebuah rumah di Kampung Babakan dan hasilnya pencuri itu hanya berputar-putar di Kampung Babakan hingga pagi dan ditangkap warga.
            Pernyataan ini juga akhirnya menjawab rasa penasaran penulis. Ya,saat datang ke Babakan penulis memang agak heran melihat perilaku penduduknya yang penulis anggap sangat ceroboh. Bayangkan, setiap orang bila meninggalkan sepeda motor diparkir didepan rumah atau dipinggir jalan pasti kuncinya tidak dicabut dan dibiarkan tergantung di kontak. Pak Usman menjelaskan bahwa memang semua penduduk sudah merasa aman dan pada kenyataannya memang belum pernah ada sepeda motor hilang atau kehilangan barang lainnya. Kalaupun ada yang mencuri pasti si pencuri tak akan bisa lari dan hanya berputar-putar disekeliling kampung hingga ditangkap penduduk.
            Penulis pun membuktikannya sendiri. Penulis meninggalkan sepatu penulis di pinggir gang didepan rumah teman penulis yang menjadi tempat menginap penulis. Saat malam pun penulis tidak memasukkan sepatu tersebut ke dalam rumah. Hasilnya, walaupun sudah disimpan selama 3 hari, sepatu itu tidak hilang. Padahal bila hal ini dilakukan di kota, dipastikan sepatu tersebut akan melayang.
            Mengenai hal ini, ditanggapi juga oleh Pak Usman sebagai terwujudnya salah satu pernyataan dari Mama Gelar. Saat Mama Gelar masih hidup, Mama Gelar memang pernah berkata mengenai keberadaan majelis di Kampung Babakan ini. Mama Gelar berkata, “Nanti suatu saat akan ada suatu lingkaran merah yang akan melingkari majelis dan daerah sekitarnya, hal ini akan membuat daerah sekitar majelis terhindar dari berbagai bencana dan serbuan musuh.” Arti lain dari pernyataan ini adalah bahwa daerah sekitar majelis dan Kampung Babakan akan selalu aman dan terhindar dari berbagai bencana.
            Disamping kisah-kisah tersebut, penulis pun ingin melakukan riyadoh di majelis tersebut. Dasarnya adalah untuk semakin mendekatkan diri pada Allah serta bersilaturahmi dengan para jin muslim di majelis. Maka, penulis kemudian meminta izin pada Bapak Haji Zaeni, salah seoang sesepuh yang sering melakukan riyadoh di majelis. Ternyata Pak Zaeni menyambut baik keinginan penulis dan mempersilahkannya. Maka pada malam Jum’at tanggal 30 Juli penulis melakukan riyadoh yang dimulai pada pukul 10 malam hingga pukul 1 dinihari.
            Saat riyadoh, penulis merasakan kenyamanan yang luar biasa. Udara menjadi sejuk dan nyaman membuat penulis semakin khusyuk berdoa dan berdzikir. Saat ini juga penulis merasakan seperti ada sosok-sosok asing yang berkelabat yang mungkin adalah sosok jin muslim di majelis.
            Memasuki pukul 12 malam, ada sedikit keanehan. Tiba-tiba di luar majelis terdengar ribut-ribut suara kambing dan ayam dari rumah warga. Anehnya, bila penulis simak, suara ribut ini terdengar dari seluruh rumah warga di berbagai penjuru sekitar majelis, karena memang kebetulan di Kampung ini rata-rata setiap rumah memiliki ternak. Penulis keheranan dan bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang terjadi? Mengapa semua ternak menjadi ribut?
            Esok paginya, keheranan penulis terjawab. Menurut beberapa warga, ternyata pada sekitar pukul 12 malam tadi terjadi gempa bumi yang cukup lumayan. Gempa bumi ini memang termasuk fenomena alam biasa, tapi hal ini membuat penulis takjub.
            Ya, sudah jelas semalam penulis sedang berdzikir di majelis tapi tidak terasa getaran gempa sedikitpun. Penulis hanya mendengar suara ternak yang memang selalu ribut bila ada fenomena alam seperti gempa. Subhanallah, memang Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Secara logika, seharusnya penulis yang sedang riyadoh di majelis ikut merasakan getaran gempa yang terjadi selama sekitar 5 menit itu. Tapi kenyataannya tidak terasa getaran sedikit pun. Kesimpulannya, memang ada sesuatu yang khusus di majelis ini. Wallahualam.

0 komentar:

Posting Komentar