Sabtu, 01 Desember 2012

#Kode 1 Desember "Menyesalkah kini?"

Pernah ada salah satu teman Nico yang bertanya seperti ini, "Pernah lo merasa menyesal di saat yang tepat?" mungkin maksud dari perkataan itu adalah apakah Nico pernah merasa menyesal namun tepat pada saatnya, bukannya seperti biasa penyesalan itu selalu datang terlambat?. Jelas saja Nico berkata "Tidak", karna yang selalu Nico rasain adalah Nico menyesal di saat yang tidak tepat atau bisa di bilang terlambat. Mungkin perkataan itu secara tidak langsung pernah Nico alami saat ini. Dari beberapa sepenggal cerita nyata tentang kisah cinta Nico dan "Cinta Sejati Nico", Mengapa Nico kasih tanda petik seperti itu, karna sejujurnya Nico sendiri tidak tau sepenuhnya apakah benar dia adalah "Cinta Sejati Nico". Dan akhirnya kisah itu bermulai.......
      Berawal dari seorang anak SMA yang masih lugu, maklum Nico masih belum mengenal apa itu cinta meski kini Nico merupakan anak SMA. Nico sangat di kenal cowok angkuh terhadap cewek di sekolah saat itu, sibuk dengan kegiatannya sendiri dan tidak memperdulikan apa itu yang dinamakan "Cinta". semenjak duduk di bangku SMP 2 tahun yang lalu, Nico selalu di sibukan dengan jadwal salah satu acara musik dari sekolah satu ke sekolah lainnya, karna memang tidak bisa Nico pungkiri Ngeband adalah salah satu kegiatan yang paling Nico sukai, Nico yang saat itu memilih untuk menjadi drummer dan pencipta lagu di bandnya sendiri, tak banyak waktu yang Nico luangkan untuk sekedar mengenal cewek, Nico hanya terus menerus menulis lagu yang Nico ciptakan untuk band dan teman Nico yang meminta Nico untuk membuatkannya lagu, meski tepat di depan Nico, teman cewek dari para personil band Nico yang lainnya mencoba untuk berkenalan dengan Nico, Nico hanya menyebutkan nama Nico tanpa harus berjabat tangan dan melihat mereka. "Jutek banget!" sekilas Nico dengar ucapan itu keluar dari salah satu cewek tepat di depan Nico. Jutek? iya, mungkin perkataan itu yang tepat untuk menggambarkan Nico di mata para cewek, tak pernah sedikitpun Nico mencoba untuk tersenyum dengan cewek yang baru Nico kenal atau mungkin yang tidak Nico  kenal. Itulah sifat gue yang gak bisa gue ubah sampai sekarang.
       ****

        Bagi Nico saat itu cewek hanya bisa mengganggu profesi Nico saja, jadi Nico memutuskan untuk fokus dengan profesi yang Nico suka ini, namun beberapa hari kemudian tepat di acara pensi sekolah, Nico ga pernah menyangka akhirnya ada juga satu cewe yang mengalihkan dunia Nico, dia adalah Via, seorang dancer yang tanpa Nico sadari dapat membuat Nico tidak berkonsentrasi saat Nico beraksi dalam satu panggung dengan Via, kebetulan dia saat itu menjadi dancer band Nico, alhasil konsentrasi Nico terbagi dengan dua bidang yang Nico sukai, hampir saja Nico melakukan kesalahan saat memasuki ketukan demi ketukan bass drum yang tidak mengikuti alunan bass dan guitar, namun saat Via juga menyadari kesalahan Nico itu, dia dengan lincahnya membalikan badannya ke arah Nico kemudian tersenyum dengan manisnya dan mencoba untuk menyamakan kembali ketukannya itu. cowok mana yang gak bahagia di senyumin seperti itu walau Nico melakukan kesalahan yang bisa saja membuat dia melakukan kesalahan juga, tetapi dia justru tersenyum. Di saat itulah Nico mulai merasakan sesuatu yang aneh, perasaan yang belum pernah Nico rasain sebelumnya, bahkan Nico sendiri cenderung sangat canggung menanggapinya, apa yang sebenarnya Nico rasain sekarang, senang, canggung, takut, bimbang, suka senyum-senyum sendiri, semua jadi satu, apa itu yang namanya cinta? entahlah.
       Akhirnya selesai juga satu demi satu lagu dari band yang kita mainkan untuk memeriahkan salah satu acara musik di pensi sekolah Nico ini, bergegas Nico dan personil band yang lain turun dari panggung dan segera menuju ke belakang panggung untuk menunggu acara berikutnya. Namun alangkah terkejutnya Nico di saat sedang asiknya Nico menikmati hidangan yang sudah di sediakan, Via mengahmpiri Nico, tanpa basa basi lagi dia menjitak kepala Nico.
           "Lo ngapain tadi, lagu gampang gitu aja lo hampir buat satu panggung lakuin kesalahan, dasar o'on lo." Kata Via seraya duduk di samping Nico yang dengan cepat pula dia merampas ayam goreng yang sengaja Nico  sisakan untuk Nico makan terakhir.
           "Ya maap, gue lagi ga konsen ni hari, lagian ga mesti ayam goreng gue lo rampas juga kan." Nico membela dan berargumen bahwa tuh ayam goreng masih milik Nico seutuhnya.
           "Ni Ayam goreng gue rampas sebagai pertanggung jawaban lo atas kesalahan lo tadi." Dengan memasang muka tak berdosa dia mulai melahap belahan jiwa Nico.
       Aneh? melihat mereka berdua ternyata sudah dekat seperti ini. ceritanya panjang, namun pada dasarnya tanpa sadar Nico dan Via ternyata dari kecil sudah bermain bersama, karna memang orang tua mereka adalah kawan lama yang sudah seperti keluarga sendiri, tapi dengan kekehnya mereka berdua tidak mau mengakui bahwa kenyataannya kita dulu sering mandi bersama. Via yang bernama lengkap Lauvia Malinda Sumantri ini merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara, dia adalah cewek tomboy yang paling anti dengan pakain serba feminim dan tak mengenal apa itu yang namanya High Heel's, dasar cewek aneh (tapi ga bisa Nico pungkiri kalo ternyata Nico suka dia apa adanya) cewek yang juga mempunyai tanggal lahir yang berbeda hanya lima hari dari Nico ini, sangat keras kepala dan suka membuat keributan di sekolahnya, yang lebih gilanya lagi ternyata dia lebih demen ribut dengan cowok di bandingkan cewek, tapi gimana bisa cowok-cowok tega berbuat kasar dengan dia, sejujurnya dia memiliki wajah secantik bak bidadari namun tingkah lakunya kaya iblis. Hingga akhirnya apa kalian tau dia di juluki apa oleh teman-temannya di sekolah, "Preman" itulah mengapa ga ada satu pun cowok yang berani mendekatinya, walaupun ga munafik juga ternyata banyak pula cowok di sekolahnya yang menyukainya, namun karna sifatnya yang melebihi tingkat rata-rata dari seorang wanita itulah yang membuat semua cowok merasa takut untuk sekedar berkenalan alhasil kini dia masih jomblo tingkat akhir. singkat prediksi tentang paras cantik dari preman ini, dia yang memiliki kulit putih bersih, berambut sebahu yang jauh lebih sering dia ikatkan seperti sanggul, bermata belo, tinggi badan yang lebih condong dengan kalimat ceper yang di voniskan oleh dokter tulang bahwa dia terancam tidak akan lebih tinggi dari 160cm, beralis tipis berhidung yang lumayan lebih mancung 2 senti dari bibirnya yang ternyata ga mau kalah namun bibir dia sangatlah sensual dan seksi di mata para pria maupun wanita dan menurut survey dia terpilih sebagai cewek dengan bibir terseksi di sekolahnya, namun dia menolak mentah-mentah anggapan itu dan dengan entengnya dia berkata seperti ini 'Mana ada, preman berbibir seksi', Bodoh!.
     ****

     Air liur yang mengalir deras dan mata yang melotot cukup menandakan kalimat 'Saya masih belum bisa terima belahan jiwa saya di gigit, bahkan di jilat-jilat dengan nikmatnya oleh preman kampung yang tidak tau diri ini.' bagaimana tidak dari tadi yang Nico makan hanya nasi putih dan sayuran saja, oleh karna itulah betapa sepesialnya tuh ayam di mata Nico sampai Nico menyebutnya belahan jiwa.
         "Kenapa lo liatin gue kaya gitu? ga terima lo ayam lo mampir di perut gue? kalo gitu lo sabar aja, ni ayam ga akan mampir lama kok di perut gue, bentar lagi juga keluar lagi dari perut gue, namun dengan bentuk dan bau yang berbeda. hahahaa..!" Seperti mahluk tak berdosa dia menjatuhkan harga diri Nico dengan sepotong ayam goreng.
         "Ogah gue makan itu lo, dasar lo....."
         "Ape?"
         "PAK MANTRI!" lekas Nico cabut.
         "ELO!!" Dengan sepotong tulang ayam yang tersisa dan masih saja dia genggam, dia mencoba mengejar Nico dan berniat untuk menjejalkan tuh tulang ayam ke mulut Nico, karna memang dia paling benci banget di panggil seperti itu, dan dari sekian banyak cowok yang berani berkata itu hanya Nico seorang, namun dengan hasil sebuah karyanya hingga mengakibatkan muka Nico yang merah, satu gigi yang pernah lepas, dan sebagian besar baju yang cenderung lebih kena keganasan cewek autis ini. Namun ada satu kejadian yang ga akan pernah Nico lupain sekaligus yang membuat Nico juga tidak akan pernah berhenti mengejek dia dengan kata seperti itu meskipun Nico tau sendiri akibatnya. Kejadian itu berlangsung singkat di minggu pagi, dia berniat mau membangunkan Nico dan itu sudah sangat di rencanakan pula dengan bunda Nico, Nico memang sangat malas untuk bangun pagi, apalagi di hari minggu seperti ini, Via dengan mudah masuk ke kamar gue tanpa permisi, kemudian dia melakukan hal yang paling Nico  benci, memotret Nico saat dia sedang tidur, dengan pantulan cahaya dari lampu blitz yang nauzubillah terangnya itu cukup membuat Nico terbangun dengan hampir mengalamai kebutaan, serasa sukses dia sudah membuat Nico terbangun dia justru mau memulaikan aksinya dengan mengucek-ucek rambut Nico, mengobok-obok muka Nico hingga akhirnya di berbisik seperti ini 'Sayang, bangun sudah pagi. semalam kamu perkasa banget deh, I Like it. ggrrrr!' saking geli dan terganggunya Nico mendengar kata yang mendesah seperti itu di telinga Nico, Nico pun keciplosan berkata 'DIEM LO MANTRI!' alhasil tarzan kota versi cewek itu mulai mengamuk dan tanpa sengaja di saat Nico masih terlalu lemah akibat belum terkumpulnya nyawa setelah terbangun, Nico dan dia terjatuh dengan posisi dia yang berada dia atas badan Nico dan berjarak hanya lima senti antara bibir Nico dan bibir Via, dengan posisi yang masih seperti ituNico  bisa merasakan hangat tubuhnya dan wangi badannya di tambah dia tersenyum manis dengan matanya yang begitu jelas menatap sayu ke mata Nico saat itulah kita hampir saja saling berciuman namun kejadian yang langka itu telah sukses bunda Nico menggagalkannya namun untung saja bunda ga terlalu mengubris kejadian tadi dan hanya tersenyum, 'Gimana Via, anak tante yang pemalas itu sudah bangun?', dengan sifat yang masih salah tingkah dan masih membereskan bajunya Via pun berkata 'Sudah tante, Via pulang dulu ya tante.' setelah keluarnya Via, bunda masih saja tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala dengan berkata 'Dasar anak muda jaman sekarang.' Nico hanya bisa cengar-cengir ga jelas dengan kondisi nyawa yang masih 45% terkumpul dan masih disconnect dengan kejadian yang singkat itu.
       ****

       TIGA BULAN KEMUDIAN...
          Kedekatan yang semakin menjadi-jadi antara mereka berdua, membuat mereka semakin sadar ternyata mereka berdua saling membutuhkan walau terkadang mereka juga masih saja tidak mau mengakuinya, Hingga tepat di bulan September, mereka berdua tidak menyangka akan ada kejadian fenomena di bulan ini. MotoGP 2009 mulai di laksanakan, inilah yang mereka berdua tunggu-tunggu, MotoGp? iya MotoGP adalah salah satu alasan kenapa mereka sangat menyukainya, karna memang dahulu saat pertama kali mereka di dekatkan dengan kedua ortu mereka, mereka masih saja tidak mau mengobrol, namun saat mereka berdua melihat tv yang pas berada di dekat meja restaurant yang sudah di pesan sebelumnya, alangkah terkejutnya mereka, karna ternyata mereka sama-sama penggemar MotoGP sejati, Via yang lebih cenderung mendukung Valentino Rossi dan sedangkan Nico mendukung Casey Stonner cukup membuat mereka saling mendebatkan jagoan mereka masing-masing alhasil bukanlah obrolan ringan yang kedua ortu mereka inginkan, namun sebuah obrolan yang jauh menjerumus seperti Demokrasi di DPR yang sama-sama kuat akan argumennya masing-masing yang dengan cepat berubah menjadi keributan. Kedua ortu mereka pun mati-matian meleraikan mereka berdua dengan di bantu satpam restaurant, kejadian itulah yang sering membuat mereka berdua tertawa apabila kembali mengingatnya. Konyol, gila, memalukan nama keluarga sehingga keluarga mereka berdua saling berjanji ga akan kembali ke restaurant itu lagi, itulah mengapa mereka selalu tertawa mengingatnya.
           "Musim kali ini gue yakin Valentino Rossidin lo akan kalah telak sama Stonner gue!"
           "Sok yakin lo, hati-hati bakalan nyesel di akhir pertandingan."
           "Engga bakal!" Nico tetep kekeh dengan renyahnya terus mengambil cemilan yang sudah di siapkan di meja dekat tv, karna memang malam ini mereka memutuskan untuk menonton bersama.
           "Mau gue buatkan kopi?" Katanya singkat.
   GLek... mendengarkan omongan super aneh barusan cukup membuat Nico keselek setengah mati.
           "Hati-hati dong kalo makan, jadi keselek gitu kan, nih minum.." Dengan lembutnya Via memberikan secangkir minuman ke Nico.
           "Terimakasih ya."
           "Iya, makannya kalo makan pelan-pelan."
           "Gue keselek bukan karna makan gue yang cepet tapi karna omongan lo yang mendadak menawarkan gue kopi. udah kaya bini gue aje lo pake acara nawarin gue kopi segala."
           "Emangnya salah ya nawarin lo kopi? emang salah juga kalo gue mau latihan jadi istri yang baik?"
Mendengar itu semua perasaan Nico mulai aneh, kenapa ini anak tiba-tiba berubah seperti ini "Engga salah kok, cuman gue rasa aneh aja sama lo, sejak kapan lo bisa bikin kopi?" Nico yakin tuh pertanyaan sangat tidak penting.
           "Sejak sekarang, gue mau bikin kopi untuk pertama kali, dan gue juga mau lo yang pertama kali minum kopi buatan gue itu." Katanya sambil tersenyum manis.
           "Jadi maksud lo gue jadi kelinci percobaan lo, yang bakal nyicipin kopi pahit lo nanti?"
 Tanpa berkata apapun lagi, dia berlalu begitu saja ke arah dapur, Nico  yang mengira kalo tadi Nico salah mengucapkan sesuatu, tapi sudahlah, Nico tidak terlalu memikirkannya dan kembali menonton.
          Tidak sampai 10 menit, akhirnya dia pun kembali dengan membawakan secangkir kopi yang kemudian dia letakan begitu saja tanpa mempersilahkan Nico minum.
           "Ini kopi buat gue?" Tanya Nico.
 Dia pun hanya terdiam terpaku menonton tv tanpa menghiraukan yang Nico omongin barusan.
 Tanpa di persilahkan untuk minum oleh Via lagi Nico langsung aja minum tuh kopi, dan hasilnya anjiss nih kopi enak banget, tapi rasanya seperti Nico kenal, dimana gitu, tapi belajar dari mana nih anak coba, apa mungkin karna dia preman jadi sudah terbiasa bikin kopi dengan teman-temannya yang beraliran sama dengan dia.
           "Gimana kopinya?" Tanya dia ketus namun pandangan tetap mengarah ke tv.
           "Biasa saja.." Nico berbohong.
           "Kok bisa ya?" Kata dia singkat.
           "Maksud lo?" Nico mulai bingung.
           "Ya padahal gue mesen tuh kopi dari coffe shop kesukaan lo. kan biasanya lo demen banget sama tuh kopi." Kata dia lempeng.....
Dengan muka yang sengaja Nico mulai tekuk dan bibir yang gue monyongin, Nico kembali menikmati kopi itu, dan cukup berkata "Terimaksih udah begoin gue". Dengan suksesnya dia kembali begoin Nico dan ketawa ngakak sengakak-ngakaknya.
      Kembali di pertandingan MotoGP yang sudah masuk putaran ke 22, dan menyisahkan 1 putaran lagi, saat itu juga posisi Stoner tepat di depan Rossi, senengnya Nico, akhirnya nih malam bisa juga Nico ceng-cengin Via habis-habisan, namun dengan tenangnya Via terus menatap layar tv dan tetap berharap bahwa Stoner akan melakukan kesalahan dan Rossi menjadi yang pertama. melihat dia yang begitu serius melototin tuh tv membuat Nico berfokus memandangi Via, dengan memandangi dia sedekat ini Nico baru yakin betapa monyongnya tuh mulut, tapi seksi (Ops salah) maksudnya betapa lucunya dia kalo lagi serius seperti itu.
       Namun keseriusan muka itu kembali berubah menjadi wajah kegembiraan, gimana engga tuh Rossidin menyusul Stoner di puteran terakhir yang alhasil Rossilah pemenangnya malam ini, tapi gu Nico ga terlalu mengubrisnya gue terus saja memandangi wajahnya itu, sampai akhirnya dia tau, kalo sedari tadi Nico memandanginya..
          "Ngapain lo liatin gue seperti itu, Stoner lo kalah noh."
          "Bodo ah" Nico masih memandang wajahnya.
          "Jangan mandangin gue begitu ngapa, lama-lama suka lo ntar sama gue."
          "Memang sudah..." tanpa sadar Nico berkata seperti itu.
          "Maksud lo?"
          "Engga kok, maksud gue.... yaaaa Stoner kalah dah, ya udah gue mesen makanan dulu ya, gue teraktir, gue juga yang kalah kan. tunggu bentar ya." sekilas Nico melihat Via tersenyum melihat Nico, apa dia tau yang Nico lakuin dan omongin tadi, namun tangan Nico di tahan erat oleh tangannya, tanpa basa basi lagi dia menarik badan Nico ke arah badannya yang sekilas Nico teringat lagi dengan kejadian singkat dulu tapi kini badan Nico berada tepat di atas badannya.
           "Lo, ngapain narik badan gue kaya gini?" Tanya Nico canggung.
           "Ga usah banyak omong bisa, sekarang cobalah cium aku seperti waktu itu."
           "Ta..tapi......"
Sambil tersenyum mata dia pun terpejam dan berharap Nico akan menciumnya....
Dalam sekejap Nico mulai mendekati wajahnya dan bibirnya hingga tak terasa kita pun berciuman, First kiss mereka yang pertama walau tanpa hubungan.
            "Kamu tau, apa yang aku tunggu-tunggu sejak lama, aku menunggu kamu mengatakan suka padaku, ga peduli kamu cinta atau ga sama aku, yang aku mau kamu berkata aku suka sama kamu itu saja sudah lebih dari cukup." Kata Via lirih..
             "Aku takut Vi, aku takut rasa suka aku ini akan menghancurkan persahabatan kita."
             "Itu juga yang aku rasakan, aku takut kamu tidak pernah suka sama aku."
             "Asal kamu tau Vi, aku sudah suka sama kamu sejak dulu, waktu kita ribut di restaurant itu. aku selalu ketawa melihat tingkah bodoh kita berdua yang dengan suksesnya mempermalukan keluarga kita. dan sejak itu pula, kamu yang selalu aku pikirkan, bahkan sampai kita dalam satu panggung di pensi itu, kamu dengan berhasil mengalihkan dunia aku." Nico sudah mulai berani untuk mengungkapkan semuanya, Via hanya tersenyum melihat pengakuan gue yang terang-terangan itu.
              "Vi, ijinkan aku mencintai kamu lebih dari ini, maukah kamu jadi cewek yang spesial di hati aku?
 Cukup satu senyuman dan berkata "Ya, aku mau. mau banget..." dengan suksesnya dia membuat malam ini terasa indah di bandingkan malam-malam yang lain, meskipun Stoner kalah malam ini.


                                                                                                       To be Continued ....

0 komentar:

Posting Komentar