Pernah ada salah satu teman Nico yang bertanya seperti ini, "Pernah lo
merasa menyesal di saat yang tepat?" mungkin maksud dari perkataan itu
adalah apakah Nico pernah merasa menyesal namun tepat pada saatnya,
bukannya seperti biasa penyesalan itu selalu datang terlambat?. Jelas
saja Nico berkata "Tidak", karna yang selalu Nico rasain adalah Nico
menyesal di saat yang tidak tepat atau bisa di bilang terlambat. Mungkin
perkataan itu secara tidak langsung pernah Nico alami saat ini. Dari
beberapa sepenggal cerita nyata tentang kisah cinta Nico dan "Cinta Sejati Nico", Mengapa Nico kasih tanda petik seperti itu, karna sejujurnya Nico sendiri tidak tau sepenuhnya apakah benar dia adalah "Cinta Sejati Nico". Dan akhirnya kisah itu bermulai.......
Berawal dari seorang anak SMA yang masih lugu, maklum Nico masih
belum mengenal apa itu cinta meski kini Nico merupakan anak SMA. Nico
sangat di kenal cowok angkuh terhadap cewek di sekolah saat itu, sibuk
dengan kegiatannya sendiri dan tidak memperdulikan apa itu yang
dinamakan "Cinta". semenjak duduk di bangku SMP 2 tahun yang lalu, Nico
selalu di sibukan dengan jadwal salah satu acara musik dari sekolah satu
ke sekolah lainnya, karna memang tidak bisa Nico pungkiri Ngeband adalah
salah satu kegiatan yang paling Nico sukai, Nico yang saat itu memilih
untuk menjadi drummer dan pencipta lagu di bandnya sendiri, tak banyak
waktu yang Nico luangkan untuk sekedar mengenal cewek, Nico hanya terus
menerus menulis lagu yang Nico ciptakan untuk band dan teman Nico yang meminta Nico untuk membuatkannya lagu, meski tepat di depan Nico, teman cewek dari para personil band Nico
yang lainnya mencoba untuk berkenalan dengan Nico, Nico hanya menyebutkan
nama Nico tanpa harus berjabat tangan dan melihat mereka. "Jutek
banget!" sekilas Nico dengar ucapan itu keluar dari salah satu cewek
tepat di depan Nico. Jutek? iya, mungkin perkataan itu yang tepat untuk
menggambarkan Nico di mata para cewek, tak pernah sedikitpun Nico mencoba
untuk tersenyum dengan cewek yang baru Nico kenal atau mungkin yang tidak Nico kenal. Itulah sifat gue yang gak bisa gue ubah sampai sekarang.
****
Bagi Nico saat itu cewek hanya bisa mengganggu profesi Nico saja,
jadi Nico memutuskan untuk fokus dengan profesi yang Nico suka ini, namun
beberapa hari kemudian tepat di acara pensi sekolah, Nico ga pernah
menyangka akhirnya ada juga satu cewe yang mengalihkan dunia Nico, dia
adalah Via, seorang dancer yang tanpa Nico sadari dapat membuat
Nico tidak berkonsentrasi saat Nico beraksi dalam satu panggung dengan Via, kebetulan dia saat itu menjadi dancer band Nico, alhasil
konsentrasi Nico terbagi dengan dua bidang yang Nico sukai, hampir saja Nico melakukan kesalahan saat memasuki ketukan demi ketukan bass drum
yang tidak mengikuti alunan bass dan guitar, namun saat Via juga
menyadari kesalahan Nico itu, dia dengan lincahnya membalikan badannya ke
arah Nico kemudian tersenyum dengan manisnya dan mencoba untuk
menyamakan kembali ketukannya itu. cowok mana yang gak bahagia di
senyumin seperti itu walau Nico melakukan kesalahan yang bisa saja
membuat dia melakukan kesalahan juga, tetapi dia justru tersenyum. Di
saat itulah Nico mulai merasakan sesuatu yang aneh, perasaan yang belum
pernah Nico rasain sebelumnya, bahkan Nico sendiri cenderung sangat
canggung menanggapinya, apa yang sebenarnya Nico rasain sekarang, senang,
canggung, takut, bimbang, suka senyum-senyum sendiri, semua jadi satu,
apa itu yang namanya cinta? entahlah.
Akhirnya selesai juga satu demi satu lagu dari band yang kita mainkan untuk memeriahkan salah satu acara musik di pensi sekolah Nico ini, bergegas Nico dan personil band yang
lain turun dari panggung dan segera menuju ke belakang panggung untuk
menunggu acara berikutnya. Namun alangkah terkejutnya Nico di saat sedang
asiknya Nico menikmati hidangan yang sudah di sediakan, Via mengahmpiri Nico, tanpa basa basi lagi dia menjitak kepala Nico.
"Lo ngapain tadi, lagu gampang gitu aja lo hampir buat satu
panggung lakuin kesalahan, dasar o'on lo." Kata Via seraya duduk di
samping Nico yang dengan cepat pula dia merampas ayam goreng yang sengaja Nico sisakan untuk Nico makan terakhir.
"Ya maap, gue lagi ga konsen ni hari, lagian ga mesti ayam
goreng gue lo rampas juga kan." Nico membela dan berargumen bahwa tuh
ayam goreng masih milik Nico seutuhnya.
"Ni Ayam goreng gue rampas sebagai pertanggung jawaban lo
atas kesalahan lo tadi." Dengan memasang muka tak berdosa dia mulai
melahap belahan jiwa Nico.
Aneh? melihat mereka berdua ternyata sudah dekat seperti ini.
ceritanya panjang, namun pada dasarnya tanpa sadar Nico dan Via ternyata
dari kecil sudah bermain bersama, karna memang orang tua mereka adalah
kawan lama yang sudah seperti keluarga sendiri, tapi dengan kekehnya mereka berdua tidak mau mengakui bahwa kenyataannya kita dulu sering mandi
bersama. Via yang bernama lengkap Lauvia Malinda Sumantri ini merupakan
anak ke dua dari tiga bersaudara, dia adalah cewek tomboy yang paling
anti dengan pakain serba feminim dan tak mengenal apa itu yang namanya High Heel's, dasar
cewek aneh (tapi ga bisa Nico pungkiri kalo ternyata Nico suka dia apa
adanya) cewek yang juga mempunyai tanggal lahir yang berbeda hanya lima
hari dari Nico ini, sangat keras kepala dan suka membuat keributan di
sekolahnya, yang lebih gilanya lagi ternyata dia lebih demen ribut
dengan cowok di bandingkan cewek, tapi gimana bisa cowok-cowok tega
berbuat kasar dengan dia, sejujurnya dia memiliki wajah secantik bak
bidadari namun tingkah lakunya kaya iblis. Hingga akhirnya apa kalian
tau dia di juluki apa oleh teman-temannya di sekolah, "Preman"
itulah mengapa ga ada satu pun cowok yang berani mendekatinya, walaupun
ga munafik juga ternyata banyak pula cowok di sekolahnya yang
menyukainya, namun karna sifatnya yang melebihi tingkat rata-rata dari
seorang wanita itulah yang membuat semua cowok merasa takut untuk
sekedar berkenalan alhasil kini dia masih jomblo tingkat akhir. singkat
prediksi tentang paras cantik dari preman ini, dia yang memiliki kulit
putih bersih, berambut sebahu yang jauh lebih sering dia ikatkan seperti
sanggul, bermata belo, tinggi badan yang lebih condong dengan kalimat ceper yang
di voniskan oleh dokter tulang bahwa dia terancam tidak akan lebih
tinggi dari 160cm, beralis tipis berhidung yang lumayan lebih mancung 2
senti dari bibirnya yang ternyata ga mau kalah namun bibir dia sangatlah
sensual dan seksi di mata para pria maupun wanita dan menurut survey
dia terpilih sebagai cewek dengan bibir terseksi di sekolahnya, namun
dia menolak mentah-mentah anggapan itu dan dengan entengnya dia berkata
seperti ini 'Mana ada, preman berbibir seksi', Bodoh!.
****
Air liur yang mengalir deras dan mata yang melotot cukup menandakan
kalimat 'Saya masih belum bisa terima belahan jiwa saya di gigit,
bahkan di jilat-jilat dengan nikmatnya oleh preman kampung yang tidak tau diri
ini.' bagaimana tidak dari tadi yang Nico makan hanya nasi putih dan
sayuran saja, oleh karna itulah betapa sepesialnya tuh ayam di mata Nico
sampai Nico menyebutnya belahan jiwa.
"Kenapa lo liatin gue kaya gitu? ga terima lo ayam lo mampir di
perut gue? kalo gitu lo sabar aja, ni ayam ga akan mampir lama kok di
perut gue, bentar lagi juga keluar lagi dari perut gue, namun dengan
bentuk dan bau yang berbeda. hahahaa..!" Seperti mahluk tak berdosa dia
menjatuhkan harga diri Nico dengan sepotong ayam goreng.
"Ogah gue makan itu lo, dasar lo....."
"Ape?"
"PAK MANTRI!" lekas Nico cabut.
"ELO!!" Dengan sepotong tulang ayam yang tersisa dan masih saja
dia genggam, dia mencoba mengejar Nico dan berniat untuk menjejalkan tuh
tulang ayam ke mulut Nico, karna memang dia paling benci banget di
panggil seperti itu, dan dari sekian banyak cowok yang berani berkata
itu hanya Nico seorang, namun dengan hasil sebuah karyanya hingga
mengakibatkan muka Nico yang merah, satu gigi yang pernah lepas, dan
sebagian besar baju yang cenderung lebih kena keganasan cewek autis ini.
Namun ada satu kejadian yang ga akan pernah Nico lupain sekaligus yang
membuat Nico juga tidak akan pernah berhenti mengejek dia dengan kata
seperti itu meskipun Nico tau sendiri akibatnya. Kejadian itu berlangsung
singkat di minggu pagi, dia berniat mau membangunkan Nico dan itu sudah
sangat di rencanakan pula dengan bunda Nico, Nico memang sangat malas
untuk bangun pagi, apalagi di hari minggu seperti ini, Via dengan mudah
masuk ke kamar gue tanpa permisi, kemudian dia melakukan hal yang paling Nico benci, memotret Nico saat dia sedang tidur, dengan pantulan cahaya
dari lampu blitz yang nauzubillah terangnya itu cukup membuat Nico
terbangun dengan hampir mengalamai kebutaan, serasa sukses dia sudah
membuat Nico terbangun dia justru mau memulaikan aksinya dengan
mengucek-ucek rambut Nico, mengobok-obok muka Nico hingga akhirnya di
berbisik seperti ini 'Sayang, bangun sudah pagi. semalam kamu perkasa
banget deh, I Like it. ggrrrr!' saking geli dan terganggunya Nico
mendengar kata yang mendesah seperti itu di telinga Nico, Nico pun
keciplosan berkata 'DIEM LO MANTRI!' alhasil tarzan kota versi cewek itu
mulai mengamuk dan tanpa sengaja di saat Nico masih terlalu lemah akibat
belum terkumpulnya nyawa setelah terbangun, Nico dan dia terjatuh dengan
posisi dia yang berada dia atas badan Nico dan berjarak hanya lima senti
antara bibir Nico dan bibir Via, dengan posisi yang masih seperti ituNico bisa merasakan hangat tubuhnya dan wangi badannya di tambah dia
tersenyum manis dengan matanya yang begitu jelas menatap sayu ke mata Nico saat itulah kita hampir saja saling berciuman namun kejadian yang
langka itu telah sukses bunda Nico menggagalkannya namun untung saja
bunda ga terlalu mengubris kejadian tadi dan hanya tersenyum,
'Gimana Via, anak tante yang pemalas itu sudah bangun?', dengan sifat
yang masih salah tingkah dan masih membereskan bajunya Via pun berkata
'Sudah tante, Via pulang dulu ya tante.' setelah keluarnya Via, bunda
masih saja tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala dengan berkata
'Dasar anak muda jaman sekarang.' Nico hanya bisa cengar-cengir ga jelas
dengan kondisi nyawa yang masih 45% terkumpul dan masih disconnect
dengan kejadian yang singkat itu.
****
TIGA BULAN KEMUDIAN...
Kedekatan yang semakin menjadi-jadi antara mereka berdua,
membuat mereka semakin sadar ternyata mereka berdua saling membutuhkan walau
terkadang mereka juga masih saja tidak mau mengakuinya, Hingga tepat di
bulan September, mereka berdua tidak menyangka akan ada kejadian fenomena
di bulan ini. MotoGP 2009 mulai di laksanakan, inilah yang mereka berdua
tunggu-tunggu, MotoGp? iya MotoGP adalah salah satu alasan kenapa mereka
sangat menyukainya, karna memang dahulu saat pertama kali mereka di
dekatkan dengan kedua ortu mereka, mereka masih saja tidak mau mengobrol,
namun saat mereka berdua melihat tv yang pas berada di dekat meja
restaurant yang sudah di pesan sebelumnya, alangkah terkejutnya mereka,
karna ternyata mereka sama-sama penggemar MotoGP sejati, Via yang lebih
cenderung mendukung Valentino Rossi dan sedangkan Nico mendukung Casey
Stonner cukup membuat mereka saling mendebatkan jagoan mereka masing-masing
alhasil bukanlah obrolan ringan yang kedua ortu mereka inginkan, namun
sebuah obrolan yang jauh menjerumus seperti Demokrasi di DPR yang
sama-sama kuat akan argumennya masing-masing yang dengan cepat berubah
menjadi keributan. Kedua ortu mereka pun mati-matian meleraikan mereka
berdua dengan di bantu satpam restaurant, kejadian itulah yang sering
membuat mereka berdua tertawa apabila kembali mengingatnya. Konyol, gila,
memalukan nama keluarga sehingga keluarga mereka berdua saling berjanji ga
akan kembali ke restaurant itu lagi, itulah mengapa mereka selalu tertawa
mengingatnya.
"Musim kali ini gue yakin Valentino Rossidin lo akan kalah telak sama Stonner gue!"
"Sok yakin lo, hati-hati bakalan nyesel di akhir pertandingan."
"Engga bakal!" Nico tetep kekeh dengan renyahnya terus
mengambil cemilan yang sudah di siapkan di meja dekat tv, karna memang
malam ini mereka memutuskan untuk menonton bersama.
"Mau gue buatkan kopi?" Katanya singkat.
GLek... mendengarkan omongan super aneh barusan cukup membuat Nico keselek setengah mati.
"Hati-hati dong kalo makan, jadi keselek gitu kan, nih
minum.." Dengan lembutnya Via memberikan secangkir minuman ke Nico.
"Terimakasih ya."
"Iya, makannya kalo makan pelan-pelan."
"Gue keselek bukan karna makan gue yang cepet tapi karna
omongan lo yang mendadak menawarkan gue kopi. udah kaya bini gue aje lo
pake acara nawarin gue kopi segala."
"Emangnya salah ya nawarin lo kopi? emang salah juga kalo gue mau latihan jadi istri yang baik?"
Mendengar itu semua perasaan Nico mulai aneh, kenapa ini anak tiba-tiba
berubah seperti ini "Engga salah kok, cuman gue rasa aneh aja sama lo,
sejak kapan lo bisa bikin kopi?" Nico yakin tuh pertanyaan sangat tidak
penting.
"Sejak sekarang, gue mau bikin kopi untuk pertama kali, dan
gue juga mau lo yang pertama kali minum kopi buatan gue itu." Katanya
sambil tersenyum manis.
"Jadi maksud lo gue jadi kelinci percobaan lo, yang bakal nyicipin kopi pahit lo nanti?"
Tanpa berkata apapun lagi, dia berlalu begitu saja ke arah dapur, Nico
yang mengira kalo tadi Nico salah mengucapkan sesuatu, tapi sudahlah, Nico
tidak terlalu memikirkannya dan kembali menonton.
Tidak sampai 10 menit, akhirnya dia pun kembali dengan
membawakan secangkir kopi yang kemudian dia letakan begitu saja tanpa
mempersilahkan Nico minum.
"Ini kopi buat gue?" Tanya Nico.
Dia pun hanya terdiam terpaku menonton tv tanpa menghiraukan yang Nico omongin barusan.
Tanpa di persilahkan untuk minum oleh Via lagi Nico langsung aja minum
tuh kopi, dan hasilnya anjiss nih kopi enak banget,
tapi rasanya seperti Nico kenal, dimana gitu, tapi belajar dari mana nih
anak coba, apa mungkin karna dia preman jadi sudah terbiasa bikin kopi
dengan teman-temannya yang beraliran sama dengan dia.
"Gimana kopinya?" Tanya dia ketus namun pandangan tetap mengarah ke tv.
"Biasa saja.." Nico berbohong.
"Kok bisa ya?" Kata dia singkat.
"Maksud lo?" Nico mulai bingung.
"Ya padahal gue mesen tuh kopi dari coffe shop kesukaan lo. kan biasanya lo demen banget sama tuh kopi." Kata dia lempeng.....
Dengan muka yang sengaja Nico mulai tekuk dan bibir yang gue monyongin, Nico kembali menikmati kopi itu, dan cukup berkata "Terimaksih udah
begoin gue". Dengan suksesnya dia kembali begoin Nico dan ketawa ngakak
sengakak-ngakaknya.
Kembali di pertandingan MotoGP yang sudah masuk putaran ke 22, dan
menyisahkan 1 putaran lagi, saat itu juga posisi Stoner tepat di depan
Rossi, senengnya Nico, akhirnya nih malam bisa juga Nico ceng-cengin Via
habis-habisan, namun dengan tenangnya Via terus menatap layar tv dan
tetap berharap bahwa Stoner akan melakukan kesalahan dan Rossi menjadi
yang pertama. melihat dia yang begitu serius melototin tuh tv membuat Nico berfokus memandangi Via, dengan memandangi dia sedekat ini Nico baru
yakin betapa monyongnya tuh mulut, tapi seksi (Ops salah) maksudnya
betapa lucunya dia kalo lagi serius seperti itu.
Namun keseriusan muka itu kembali berubah menjadi wajah
kegembiraan, gimana engga tuh Rossidin menyusul Stoner di puteran
terakhir yang alhasil Rossilah pemenangnya malam ini, tapi gu Nico ga
terlalu mengubrisnya gue terus saja memandangi wajahnya itu, sampai
akhirnya dia tau, kalo sedari tadi Nico memandanginya..
"Ngapain lo liatin gue seperti itu, Stoner lo kalah noh."
"Bodo ah" Nico masih memandang wajahnya.
"Jangan mandangin gue begitu ngapa, lama-lama suka lo ntar sama gue."
"Memang sudah..." tanpa sadar Nico berkata seperti itu.
"Maksud lo?"
"Engga kok, maksud gue.... yaaaa Stoner kalah dah, ya udah gue
mesen makanan dulu ya, gue teraktir, gue juga yang kalah kan. tunggu
bentar ya." sekilas Nico melihat Via tersenyum melihat Nico, apa dia tau
yang Nico lakuin dan omongin tadi, namun tangan Nico di tahan erat oleh
tangannya, tanpa basa basi lagi dia menarik badan Nico ke arah badannya
yang sekilas Nico teringat lagi dengan kejadian singkat dulu tapi kini
badan Nico berada tepat di atas badannya.
"Lo, ngapain narik badan gue kaya gini?" Tanya Nico canggung.
"Ga usah banyak omong bisa, sekarang cobalah cium aku seperti waktu itu."
"Ta..tapi......"
Sambil tersenyum mata dia pun terpejam dan berharap Nico akan menciumnya....
Dalam sekejap Nico mulai mendekati wajahnya dan bibirnya hingga tak terasa kita pun berciuman, First kiss mereka yang pertama walau tanpa hubungan.
"Kamu tau, apa yang aku tunggu-tunggu sejak lama, aku
menunggu kamu mengatakan suka padaku, ga peduli kamu cinta atau ga sama
aku, yang aku mau kamu berkata aku suka sama kamu itu saja sudah lebih
dari cukup." Kata Via lirih..
"Aku takut Vi, aku takut rasa suka aku ini akan menghancurkan persahabatan kita."
"Itu juga yang aku rasakan, aku takut kamu tidak pernah suka sama aku."
"Asal kamu tau Vi, aku sudah suka sama kamu sejak dulu,
waktu kita ribut di restaurant itu. aku selalu ketawa melihat tingkah
bodoh kita berdua yang dengan suksesnya mempermalukan keluarga kita. dan
sejak itu pula, kamu yang selalu aku pikirkan, bahkan sampai kita dalam
satu panggung di pensi itu, kamu dengan berhasil mengalihkan dunia
aku." Nico sudah mulai berani untuk mengungkapkan semuanya, Via hanya
tersenyum melihat pengakuan gue yang terang-terangan itu.
"Vi, ijinkan aku mencintai kamu lebih dari ini, maukah kamu jadi cewek yang spesial di hati aku?
Cukup satu senyuman dan berkata "Ya, aku mau. mau banget..." dengan
suksesnya dia membuat malam ini terasa indah di bandingkan malam-malam
yang lain, meskipun Stoner kalah malam ini.
To be Continued ....
Sabtu, 01 Desember 2012
#Kode 1 Desember "Menyesalkah kini?"
Posted on 21.26 by OwlCalls Radio
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar